Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Balita. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Juni 2016
Gejala Awal Autisme Dapat Dideteksi Sejak Usia 6 Bulan
Autisme, gangguan perkembangan yang dimulai pada masa kanak-kanak ini tidak dapat dideteksi melalui tes medis. Pada beberapa kasus, orang tua salah mengenali tanda-tanda autisme yang muncul pada anak sebagai keterbelakangan mental.
Surabhi Verma, seorang terapist yang berpusat di New Delhi membagikan tanda-tanda awal yang dapat dijadikan pedoman orang tua dalam mendeteksi autisme, dimulai sejak usia 6 bulan. Berikut tanda-tandanya :
Usia 6 bulan
Tidak ada senyuman atau ekspresi kebahagiaan
Usia 9 bulan
Tidak ada ekspresi wajah atau respon saat namanya dipanggil. Tidak ada babbling atau ocehan khas bayi.
Usia 16 bulan
Bisa membaca puisi, lagu dan lain-lain, tetapi tidak bisa mengatakan kebutuhan dasar seperti rasa lapar, ingin buang air di toilet dan sebagainya. Lebih banyak menyendiri dan tidak melihat wajah orang yang mengajak berbicara.
Usia 24 bulan
Sangat baik dalam aktivitas tertentu, misalnya berkegiatan seni. Mereka memiliki keterikatan dekat dengan obyek tertentu.
Meski autisme belum ada obatnya, tetapi autisme dapat ditangani sejak dini dan melakukan pencegahan. Berikut tips dasar bagi orang tua untuk menangani anak-anak autis:
Pahami dan pelajari kondisi
Anak Anda adalah anak yang spesial. Penting bagi orang tua untuk memantau sekecil apapun perubahan yang terjadi pada anak, baik dari sisi fisik, emosi, sosial, berbahasa dan sikap-sikap yang ditunjukanya.
Cintai dan Dukung Anak Anda
Dukungan dan cinta dari keluarga akan membantu anak untuk belajar dan bertumbuh lebih baik. Anak-anak dengan autisme umumnya menunjukkan perilaku yang tidak tertib daripada anak-anak pada umumnya. Berikanlah perhatian dan pengertian padanya.
Setiap anak memiliki tumbuh kembangnya masing-masing. Apapun yang terjadi pada anak Anda, percayalah bahwa mereka dianugerahkan Tuhan dengan sebaik-baiknya :) Semoga informasi ini berguna bagi Anda.
Sumber : vemale.com
Rabu, 01 Juni 2016
Yuk Coba, Tips Sederhana Agar si Kecil Tak Gampang Digigit Nyamuk
Pergantian musim yang cukup ekstrem tak menutup kemungkinan risiko terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD) lebih tinggi. Untuk mencegahnya, terutama bagi para orang tua, bisa dilakukan upaya proteksi lainnya.
Seperti penuturan dr Margaretha Komalasari SpA dari Kemang Medical Care, selain dengan 3M (menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas), orang tua bisa melakukan pencegahan dengan memakaikan si kecil pakaian yang panjang agar terhindar dari gigitan nyamuk.
"Tapi kalau terus-terusan pakai pakaian panjang anak bisa nggak dapet paparan sinar matahari ya, nggak dapat vitamin D-nya. Untuk itu, ibu bisa mengoleskan losion anti nyamuk atau minyak telon, sebisa mungkin yang mengandung bahan alami karena kulit bayi kan masih sensitif," kata dr Ata, begitu ia akrab disapa dalam Konferensi Pers.
dr Ata menambahkan, jika anak sudah telanjur digigit nyamuk, pada gigitan pertama pemberian minyak telon bisa membantu meredakan reaksi peradangan. Pilihan lainnya, Bunda bisa menggunakan lidah buaya. Tapi, jika gigitan sudah bukan yang pertama, bisa jadi sudah terjadi infeksi dan untuk mengatasinya harus menggunakan salep tertentu.
Hadir dalam kesempatan sama, Senior Brand Development Manager My Baby, Dahlia Yolanda yang akrab disapa Lia mengatakan berdasar survei My Baby di bulan mei 2016 terhadap 1.200 ibu 20-45 tahun di seluruh Indonesia yang memiliki bayi, 8 dari 10 ibu takut sang anak kena DBD saat tergigit nyamuk.
Selain itu diketahui citronella (minyak sereh), berdasarkan tes di IPB, bisa menghalau nyamuk lain tidak hanya Aedes aegypti tapi juga jenis nyamuk lain seperti anopheles. Sehingga ini menjadi kandungan alami yang bisa digunakan, termasuk ditambahkan dalam minyak telon.
Kombinasi citronella dan chamomile dikatakan Senior Brand Development Manager My Baby, Dahlia Yolanda yang akrab disapa Lia, bersinergi dan berfungsi untuk menutup indra nyamuk sehingga tidak bisa mencium aroma tubuh manusia. "Kombinasi bahan ini juga membuat wangi minyak telon segar dan tahan lama, bisa memproteksi 6 sampai 8 jam dan bisa dipakai seluruh anggota keluargalah," pungkas Lia.
Sumber : detikhealth.com
Perhatikan Hal Ini Agar Kulit si Kecil Tak Mudah Iritasi
Semua orang tua pasti ingin memberi yang terbaik untuk buah hatinya. Termasuk untuk urusan perawatan si kecil, tentu tak ada orang tua yang tega melihat kulit anaknya mudah teriritasi.
Untuk itu, seperti penuturan dr Margaretha Komalasari SpA dari Kemang Medical Care, ketika memilih produk perawatan kulit untuk anak, usahakan pilih produk yang terbuat dari bahan alami dan sudah teruji klinis tak membuat iritasi. Kemudian, perhatikan pula reaksi yang kemungkinan muncul setelah anak dipakaikan produk tersebut.
"Sebelum memakaikan produk perawatan kulit, dibaca dulu komposisi produk itu apa. Kemudian diobservasi area yang dioleskan, biasanya kita coba oleskan sedikit dulu di belakang telinga. Kalau nggak ada iritasi kontak, ya lanjutkan nggak apa-apa," kata wanita yang akrab disapa dr Ata ini.
Hal itu ia sampaikan dalam Konferensi Pers My Baby Minyak Telon Plus di XXI Lounge Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/2016). Lebih lanjut, dr Ata menuturkan reaksi iritasi kontak bisa muncul dalam waktu cepat atau lambat. Tapi, mesti dilihat apakah iritasi kontak tersebut karena produk yang digunakan. Karena, bisa saja faktor lain seperti makanan yang jadi penyebabnya.
Iritasi kontak akibat pemakaian produk tertentu umumnya muncul di area yang dioleskan produk tersebut. Jika iritasi karena makanan misalnya, bisa muncul iritasi di seluruh tubuh. Gejala iritasi kontak lain yang bisa muncul yakni kulit kering, merah, panas saat diraba, dan gatal.
"Untuk mengatasinya, setop pemakaian produk kemudian dikasih pelembap untuk meredakan iritasinya. Kalau reaksi tambah parah bisa diberi obat-obat tertentu yang digunakan sesuai petunjuk dokter ya," kata dr Ata.
Untuk pemakaian produk perawatan kulit seperti bedak, dr Ata mengingatkan jangan gunakan di area kelamin dan wajah karena bisa terhirup si kecil. Jika produk perawatan kulit ini hendak digunakan setelah anak dimandikan, menurut dr Ata boleh-boleh saja tapi sekali lagi, perhatikan komposisi bahan dan observasi kulit anak pasca dicoba menggunakan produk tersebut.
Sumber : detikhealth.com
Langganan:
Postingan (Atom)


